Minggu, Januari 18, 2026
telitik.com
  • News
  • Politik
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • Lifestyle
  • Khazanah
  • Dunia
No Result
View All Result
  • News
  • Politik
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • Lifestyle
  • Khazanah
  • Dunia
No Result
View All Result
telitik.com
No Result
View All Result
Home Khazanah

Ulama Perempuan yang Disegani pada Masa Kejayaan Islam di Andalusia Spanyol

Redaksi by Redaksi
2 April 2024
in Khazanah
0
Umat Islam Dianjurkan Baca Alquran pada Malam-malam Terakhir Ramadan
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

TELITIK.com, Banda Aceh – Aisyah binti ahmad al-Qurthubiyah (w 1009 M) merupakan seorang perempuan cerdas, sastrawan, panyair Andalusia terkemuka pada zamannya. Intinya, ia memiliki pengetahuan yang luas.

Lebih dari itu, Aisyah juga dikenal sebagai syughufah bil qira’ah wal mu’anasah bil kutub (kutub buku). Dalam “Para Ulama dan Intelektual yang Memilih Jomblo“ karya KH Husein Muhammad menjelaskan, Aisyah binti Ahmad al-Qurthubiyah bahkan memiliki perpustakaan pribadi yang berisi buku-buku dan manuskrip langka.

Khalifah Andalusia, Abdurrahman III, yang bergelar An-Nashir (sang pemenang) juga mengagumi Aisyah binti Ahmad al-Qurthubiyah. Bahkan, sang khalifah memberikan penghormatan yang tinggi kepada Aisyah, karena kapasitas intelektualnya yang menonjol, bahkan di antara para intelektual laki-laki.

Seorang sastrawan dan sejarawan besar, Ibnu Hayyan dalam bukunya yang berjudul Al-Muqtabas, memberikan kesaksian atas kepiawaian perempuan cerdas tersebut. Ibnu Hayyan menyampaikan kekagumannya yang luar biasa terhadapnya sebagai berikut:

“Tak ada seorang pun di Andalusia pada zaman itu yang mengungguli Aisyah al-Qurthubiyah dalam banyak aspek: pengetahuan, sastra, puisi, kefasihan bertutur kata, dan keluhuran pribadinya.”

Sedangkan penulis buku Al-Maghrib, menyebut Aisyah al-Qurthubiyah sebagai innaha min ajaib zamaniha wa gharaib awaniha. Artinya, perempuan paling mempesona dan paling “Aneh” pada zamannya.

Namun, sampai akhir hayatnya, Aisyah binti Ahmad al-Qurthubiyah memilih untuk tidak menikah. Tidak diketahui alasan pasti mengapa perempuan cerdas ini memilih menjomblo seumur hidupnya.

Tetapi, banyak orang menduga bahwa ia memilih tidak menikah karena lebih sibuk dengan ilmu pengetahuan, belajar, membaca, dan meneliti daripada mengamati wajah-wajah para pelamarnya.

Ada juga yang menduga, Aisyah binti Ahmad al-Qurthubiyah tidak menikah karena baginya menggumuli ilmu pengetahuan itu jauh lebih nikmat daripada kenikmatan menikah dan terikat.

Kemajuan Andalusia, Spanyol

Selama lebih dari tujuh abad, dari 8 M sampai 15 M, peradaban Islam pernah berakar kuat di Spanyol. Wilayah kekuasaan Islam itu lebih dikenal dengan Andalusia.

Sejak pertengahan abad ke-10 hingga awal abad ke-11, Kordoba menjadi Permata Eropa. Pusat Daulah Umayyah di Andalusia itu berperan sebagai jembatan peradaban Islam di Benua Biru.

Dari sanalah, orang-orang Barat mulai mengenal dan mempelajari berbagai kemajuan yang dicapai Muslimin.

Prof Raghib as-Sirjani dalam Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia mengatakan, Kordoba dan Andalusia secara keseluruhan adalah saluran penting untuk proses transfer pemberadaban (civilising) dari Islam ke Eropa (baca: Barat). Hal itu mencakup bidang ilmu, pemikiran, sosial, ekonomi, dan sebagainya.

Wilayah Muslimin ini memang sempat dilanda kekacauan politik yang hebat pascawafatnya al-Muzhaffar pada 1008 M. Namun, Andalusia terus bertahan sebagai mimbar pencerahan hingga titik nadir yang tidak lagi terpulihkan, Reconquista, yang ditandai jatuhnya Granada pada 1492 M.

Keagungan daulah Islam ini diakui para penulis Eropa yang sezaman ataupun era modern. Sosiolog Prancis Gustave Le Bon menulis, “Begitu orang-orang Arab berhasil menaklukkan Spanyol, mereka mulai menegakkan risalah peradaban di sana. Mereka memberikan perhatian yang besar untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan sastra, menerjemahkan buku-buku Yunani dan Latin, dan mendirikan universitas-universitas yang menjadi satu-satunya sumber ilmu pengetahuan dan peradaban di Eropa dalam waktu yang lama.”

Mekarnya peradaban Islam di Andalusia juga didukung kebijakan penguasa yang tidak menutup kesempatan bagi siapapun warga. Selama tidak mengancam keamanan negeri, para amir dan khalifah mempersilakan warga dari kalangan Nasrani ataupun Yahudi untuk bekerja di institusi-institusi pemerintahan, pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya.

Keberadaan kaum terpelajar non-Muslim bukanlah hal yang tabu di lembaga-lembaga yang dibiayai ne gara. Dengan membangun banyak sarana dan prasarana pendidikan, khalifah dapat menerapkan pembuda yaan dengan medium bahasa Arab.

Orang-orang Spanyol, termasuk yang non-Muslim, menjadi terbiasa berbahasa Arab. Bahkan, menurut as-Sirjani, mereka lebih mengutamakannya daripada bahasa Latin.

Seperti Bait al-Hikmah Baghdad di timur, Kordoba pun menjadi tempat penerjemahan buku-buku ilmiah dan filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab. Di antara karya-karya yang diterjemahkan ialah catatan Gallienus, Hippokrates, Plato, Aristoteles, dan Euklid. Sebaliknya, proses alih bahasa dari Arab ke Latin pun gencar dilakukan.

Seorang penerjemah yang masyhur pada masa itu adalah Jirarid ath-Tholtoli. Intelektual kelahiran Italia itu datang ke Toledo pada 1150 M. Dikatakan bahwa ia menerjemahkan 100 buku, termasuk Al-Qanun karya Ibnu Sina dan Al-Manshuri-nya ar-Razi.

Kota-kota Islam pada abad pertengahan memancarkan cahaya ke berbagai penjuru dunia. Para penulis modern mengakui dan mengagumi kemajuan yang dicapai pusat-pusat peradaban tauhid. Penulis berdarah Yahudi kelahiran Austria-Hungaria, Leopold Weiss (1900-1992), mengajak masyarakat Eropa (Barat) untuk merenungi kontribusi Muslimin bagi kebudayaan mutakhir. []

Tags: khazanahSosok
Previous Post

Lulusan Ma’had Aly Berpeluang Ikut Seleksi CPNS

Next Post

Gus Baha Jelaskan tentang Tidurnya Orang Puasa Itu Ibadah

Redaksi

Redaksi

Next Post
Gus Baha Jelaskan tentang Tidurnya Orang Puasa Itu Ibadah

Gus Baha Jelaskan tentang Tidurnya Orang Puasa Itu Ibadah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Antara Kebijakan dan Kriminalisasi: Membaca Kasus Gus Yaqut dengan Jernih

Antara Kebijakan dan Kriminalisasi: Membaca Kasus Gus Yaqut dengan Jernih

17 Januari 2026
Menembus Lumpur dan Sungai, Tim Kesehatan NSCC–Klinik Athari Hadirkan Harapan bagi Warga Gampong Sekumur

Menembus Lumpur dan Sungai, Tim Kesehatan NSCC–Klinik Athari Hadirkan Harapan bagi Warga Gampong Sekumur

29 Desember 2025
Gekrafs Aceh Salurkan Bantuan Kemanusiaan di Langkahan, Bangun Sumur Bor untuk Warga Terdampak

Gekrafs Aceh Salurkan Bantuan Kemanusiaan di Langkahan, Bangun Sumur Bor untuk Warga Terdampak

29 Desember 2025
Agam Inong Aceh Gelar Charity Night untuk Korban Bencana

Agam Inong Aceh Gelar Charity Night untuk Korban Bencana

24 Desember 2025
KNPI Nilai Kinerja Sekda Aceh Tepat dan Responsif Tangani Bencana

KNPI Nilai Kinerja Sekda Aceh Tepat dan Responsif Tangani Bencana

24 Desember 2025
Gampong Lhok Gunci yang Hilang: Saat Permukiman Warga Berubah Menjadi Alur Sungai Baru

Gampong Lhok Gunci yang Hilang: Saat Permukiman Warga Berubah Menjadi Alur Sungai Baru

23 Desember 2025
telitik.com

© 2025 TELITIK.com

  • Redaksi
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result

© 2025 TELITIK.com